Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 13 Juli 2011

Jeritan Buat Sahabat

Terbayang seraut wajah seorang sahabat penuh kesabaran, santun, penyayang dan juga bijaksana.

Duduk diatas singgasana raja dalam tiupan angin badai yang menggoyangnya.

Tak kuasaku tuk menolongnya. Bahkan matakupun nanar tertutup air mata luka. Tangankupun tak mampu menggapainya tuk meringankan beban yang tengah di sandangnya.



Mungkin aku bukanlah seorang sahabat yang baik buatnya. Aku tak pernah sekalipun menawarkan pundakku tuk dijadikan sandaran kepalanya. Dan kubiarkan dia berjalan tanpa memberi penerangan dariku. Kubiarkan dia melangkah dalam gugusan angin yang begitu kencang meniupnya.



Tuhan...

Mengapa aku harus berada di simpang jalan seperti ini. Harus memilih meskipun aku tidak mau. Adilkah aku? Pertanyaan yang bodoh. Sisi batinku berteriak sumbang. Suaraku tercekik di kerongkongan meskipun air liurku mengucur deras di tekakku.



Aku lelah melangkah, dalam kegalauan jiwaku yang kian terjal. Meskipun aku ingin terus melangkah di antara lemasnya sendi kakiku yang kian terseok.

Kekuatan hatiku tak sanggup menopangnya.



Sahabat maafkan aku. Aku bukanlah sahabat yang baik bagimu. Meski aku ingin menghiburmu. Menghibur duka laramu.

Menghapus air matamu, agar tak kosong pandanganmu.

Terkulai lemah lentik jemariku.

Kucari pegangan dan kekuatan tuk mencoba bertahan.

Tetapi sanggupkah aku..?

 Pedih menyentuh ulu hati

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

 
Electricity Lightning